KAJIAN ESKATOLOGI ISLAM DI AL-AZHAR (PART I)

Kajian eskatologi Islam atau yang juga nge-trend dengan nama ‘kajian akhir zaman’ itu aslinya merupakan bidang garapnya ulama tauhid/akidah.

Biasanya mereka membagi kajian akidah menjadi tiga tema besar. Pertama, tentang ketuhanan atau ilâhiyyât. Kedua, tentang kenabian atau nubuwwât. Ketiga, tentang sam`iyyât yaitu hal-hal yang kebenarannya hanya bisa didapatkan dari Rasulullah shallalLâhu `alaihi wa sallama seperti tanda-tanda kiamat, Imam Mahdi, Dajjal, kejadian-kejadian di hari akhir dan lain sebagainya.

Ketika seseorang sudah meyakini bahwa apa yang datang dari Rasulullah merupakan sebuah kebenaran, secara otomatis persoalan sam`iyyât yang Rasulullah jelaskan (dan bisa dipertanggungjawabkan berasal dari Rasulullah) pun akan diterima sebagai sebuah kebenaran pula.

Oleh karena akidah menjadi satu materi pelajaran pokok dalam keilmuan Islam, maka sudah menjadi keniscayaan untuk menjadi salah satu bahan ajar utama di al-Azhar (kuliah maupun talaqqi). Termasuk di dalamnya soal kejadian-kejadian hari akhir.

Penyajiannya terkadang dalam pengajaran formal mata kuliah/talaqqi akidah/tauhid. Bisa juga dalam bentuk pelajaran hadis, mengkaji hadis-hadis yang berbicara seputar hari kiamat dan lain sebagainya.

Selain dalam pendidikan formal, tema-tema seputar ‘kajian akhir zaman’ pun kadang menjadi materi dalam seminar, kuliah umum atau khutbah Jumat kalau memang kebutuhan umat dan momen-nya menuntut demikian.

Misalnya, dulu pernah diadakan kuliah umum tentang ‘Bagaimana Menyikapi Hadis-Hadis Akhir Zaman?’ di Fakultas Dakwah Universitas al-Azhar. Pematerinya adalah guru besar hadis dan ilmu hadis Universitas al-Azhar Prof. Dr. Ahmad Ma`bad Abdul Karim yang namanya tentu sudah tidak asing lagi dalam kajian hadis di dunia Islam.

Di antara poin yang saya ingat dari kajian Beliau adalah: pemahaman hadis-hadis akhir zaman harus dilakukan secara metodologis dan harus melahirkan semangat amal soleh yang nyata. Tanpa hal tersebut seringkali ‘kajian-kajian akhir zaman’ justru menjadi kontraproduktif.

Syekh Ahmad Ma`bad bercerita, pada tahun 1979 pernah terjadi penyerangan di Masjidil Haram oleh Juhayman al-Utaybi. Dalam penyerangan itu, Juhayman membaiat iparnya, Muhammad al-Qahthani, sebagai khalifah sekaligus ‘Imam Mahdi’ (kebetulan tahun itu adalah 1400 Hijriyah dan ‘pas momennya’ untuk kemunculan ‘sang mujaddid’ yang disebut dalam hadis akan muncul tiap 100 tahun sekali).

Penyerangan itu adalah puncak dari aksi-aksi Juhayman yang tidak puas terhadap pemerintahan Arab Saudi. Juhayman ingin Arab Saudi yang ‘lebih sesuai dengan al-Quran dan al-Sunnah’ menurut pemahaman dia. Namun seringkali aksinya mentok digagalkan oleh pemerintah Saudi. Aksi terakhir di Masjidil Haram ini pun berakhir dengan dihukum matinya Juhayman dan pengikutnya.

Orang yang berani melakukan aksi bersenjata di Masjidil Haram sebagai puncak ketidakpuasan terhadap kondisi keumatan yang ada, diduga kuat ada yang tidak beres dari bangunan keilmuan dalam dirinya. Membaiat iparnya sebagai ‘khalifah dan Imam Mahdi’ pun atas dasar apa?

Menurut hemat kami, sebagai salah satu pembahasan ilmu akidah, ‘kajian akhir zaman’ seharusnya disajikan kepada umat secara ideal sehingga tidak malah menimbulkan hal-hal yang kontraproduktif seperti keputusasaan, kepanikan massal atau menimbulkan sikap malas mengembangkan ilmu pengetahuan dan berkarya dengan alasan ‘kan sudah mau kiamat?’.

(Bersambung)

Ust. Musa al Azhar, Lc. Dipl.
Pasca Sarjana, Jurusan Hadits dan Ilmu Ilmu Hadits, Fak. Ushuluddin, Univ. Al Azhar Cairo.
Kontributor Jaringan Sekolah BIAS untuk Mesir dan Timur Tengah.

Ciri Ustadz Ideal (1) 

Sebuah langkah maju dari orang yang

Ciri Ustadz Ideal (2) 

Kembali ke topik kriteria Ustadz atau siapapun yang 

Ciri Ustadz Ideal (3) 

Selain memiliki kemampuan mengajar, idealnya

NABI MARAH Ketika turun ayat di atas, para sahabat jadi sungkan untuk

TAHDZIR Di jagat media sosial sekitar kita, sering diramaikan oleh

SETAN Kredibilitas (tsiqah) seorang perawi hadis merupakan salah satu

BELAJAR HADIS ITU SEPERTI APA? (PART I)Siapapun yang serius mendalami

BELAJAR HADIS ITU SEPERTI APA? (PART II)  Kalau ditanya, misalnya, apa maksudnya ‘menguasai Shahih al-Bukhari’?

SEMUA BUTUH PAKAR AGAMA PUN DEMIKIAN Para sahabat sebenarnya segan untuk bertanya kepada Nabi tentang

GALERI

Hubungi Kami Lembaga Pendidikan Islam Terpadu Bina Anak Sholeh Yogyakarta
Hari Kerja (Senin – Jumat) : 07.00 – 16.00 WIB
Sabtu : 08.00 – 14.00 WIB
Komplek Perkantoran BIAS  Jl. Wirosaban Barat No. 6
Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 

Telepone 0274 – 410 350
Email Sibibias@gmail.com