NABI MARAH

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَسۡ‍َٔلُواْ عَنۡ أَشۡيَآءَ إِن تُبۡدَ لَكُمۡ تَسُؤۡكُمۡ وَإِن تَسۡ‍َٔلُواْ عَنۡهَا حِينَ يُنَزَّلُ ٱلۡقُرۡءَانُ تُبۡدَ لَكُمۡ عَفَا ٱللَّهُ عَنۡهَاۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٞ ١٠١

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun”

(Al-Maidah : 101)

Ketika turun ayat di atas, para sahabat jadi sungkan untuk ‘banyak bertanya’ kepada Rasulullah Shallallâhu `alaihi wa Sallama.

Tapi suatu saat, perkataan Nabi, “Wahai manusia, ambillah ilmu sebelum ilmu itu dicabut dan diangkat!” membuat para sahabat penasaran.

Mereka tidak kurang akal. Mereka mencari orang pedalaman, dengan “disuap” pakai hadiah serban, kemudian disuruh menanyakan kepada Nabi tentang apa maksud dari ‘dicabutnya ilmu’ ?

Orang pedalaman itu pun bertanya, “Wahai Rasulullah, kok bisa ilmu diangkat ? Sedangkan kita kan masih punya mushaf (naskah al-Quran), sudah kita pelajari dan kita ajarkan kepada keluarga dan pembantu kita ?”

Jawabannya, yap Nabi marah betul. Wajahnya terangkat, mukanya merah. Marah betul. “Celaka kalian ! Orang Nasrani dan Yahudi itu juga punya mushaf (naskah kitab suci). Tapi satu huruf-pun ajaran para Nabi mereka tidak ada yang dipegangi ! Ketahuilah bahwa sesunggunya perginya ilmu itu karena perginya pembawanya !”

(Diulangi sampai tiga kali sebagai bentuk penekanan).

Kisah nyata yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dari sahabat Abu Umamah RadhiyalLâhu `anhu (Musnad Ahmad no. 22290) memberikan kita beberapa pelajaran:

  1. Semangat para sahabat untuk selalu mencari tahu makna al-Quran dan perkataan Nabi. Sampai dibela-belain “menyuap” (dalam hadis redaksinya fa rasyaunâhu/kemudian kami menyuapnya) orang Arab pedalaman hanya untuk bertanya kepada Nabi;
  2. Keramahan Rasulullah tidak ada yang menyangkal dan banyak datanya. Tapi ada kalanya beliau harus marah. Salah satu poin yang membuat beliau marah adalah konsep mengandalkan keberadaan naskah al-Quran (mushaf), padahal kebutuhannya adalah dijadikan petunjuk. Memiliki mushaf bukan berarti sudah mengilmui al-Quran. Hal yang terpenting adalah keberadaan ‘para pembawanya’ yang memiliki kapasitas untuk memahami al-Quran sebagaimana mestinya. Orang inilah yang dirujuk pehamannya terhadap kitab suci.
  3. Kesimpulannya: keberadaan teks al-Quran belum cukup. Umat membutuhkan orang yang bisa mengajarkan makna yang terkandung dalam teks al-Quran. Yaitu para ulama. (yang jelas kapasitas keilmuannya).

Wallahu ‘alam

Ust. Musa al Azhar, Lc. Dipl.
Pasca Sarjana, Jurusan Hadits dan Ilmu Ilmu Hadits, Fak. Ushuluddin, Univ. Al Azhar Cairo.
Kontributor Jaringan Sekolah BIAS untuk Mesir dan Timur Tengah.

Point Ilmu Mantiq 

Ilmu mantik adalah qanun berfikir, oleh karenanya

Ciri Ustadz Ideal (1) 

Sebuah langkah maju dari orang yang

Ciri Ustadz Ideal (2) 

Kembali ke topik kriteria Ustadz atau siapapun yang 

Ciri Ustadz Ideal (3) 

Selain memiliki kemampuan mengajar, idealnya

GALERI

Hubungi Kami Lembaga Pendidikan Islam Terpadu Bina Anak Sholeh Yogyakarta
Hari Kerja (Senin – Jumat) : 07.00 – 16.00 WIB
Sabtu : 08.00 – 14.00 WIB
Komplek Perkantoran BIAS  Jl. Wirosaban Barat No. 6
Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 

Telepone 0274 – 410 350
Email Sibibias@gmail.com