Terperangkap di Puncak Harga

Perkembangan zaman yang semakin maju membuat teknologi terus berubah, termasuk dalam cara orang mengelola uang. Jika dulu orang hanya mengenal tabungan atau investasi sederhana, sekarang banyak yang tertarik pada investasi digital seperti crypto. Pada tahun 2008, Satoshi Nakamoto memperkenalkan Bitcoin, tetapi pada awalnya tidak banyak orang yang memahami apa itu crypto (Chrysochou & Strong, 2024). Baru pada tahun 2011–2013 teknologi ini mulai dikenal luas, hingga akhirnya mencapai puncaknya pada tahun 2017 ketika harga Bitcoin naik sangat tinggi (Lidyana, 2024).

Kenaikan harga yang cepat membuat banyak orang ikut membeli karena takut ketinggalan. Fenomena ini dikenal sebagai FOMO (fear of missing out). Hal seperti ini sebenarnya sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari (IJMH, 2025). Misalnya, ketika ada jajanan viral atau tren baru, banyak orang ikut membeli hanya karena ramai, bukan karena benar-benar butuh. Dalam dunia crypto, perilaku seperti ini berisiko besar karena harganya bisa naik-turun sangat cepat.

Menurut Edwards (2025), banyak orang yang membeli crypto saat harganya sudah tinggi karena tergoda melihat orang lain pamer keuntungan, terutama di media sosial. Sama seperti ketika melihat teman unggah barang baru, ada keinginan untuk ikut juga agar tidak merasa tertinggal. Padahal, membeli sesuatu tanpa mempertimbangkan risiko bisa berakhir mengecewakan. Hal ini dibuktikan oleh penelitian dalam International Journal of Mental Health and Addiction (2025) yang menyebutkan bahwa FOMO sering muncul bersama perasaan menyesal. Orang takut ketinggalan, tetapi setelah membeli, justru stres karena harga turun.

Menurut penelitian Chrysochou dan rekan-rekan, FOMO juga dipengaruhi keinginan untuk terlihat keren atau sukses di mata orang lain. Ini sangat relevan dengan kehidupan remaja sekarang. Banyak siswa SMA yang terpengaruh konten “cepat kaya”, misalnya video profit besar dari trading. Padahal, belum tentu semua yang ditampilkan benar adanya. Tak jarang konten seperti itu membuat orang tergesa-gesa mengambil keputusan tanpa mempelajari risiko.

Menurut Lidyana (2024), secara umum, ada dua tipe orang dalam berinvestasi di crypto. Pertama, mereka yang mempelajari analisis, memahami risiko, dan menentukan batas untung serta batas rugi. Tipe orang seperti ini tidak mudah panik ketika harga berubah. Tipe kedua adalah mereka yang hanya mengejar keuntungan cepat. Ketika harga turun, mereka bingung dan akhirnya memaksakan diri menahan kerugian dengan harapan harga kembali naik. Fenomena ini mirip dengan kehidupan seharihari: ketika terbawa emosi, manusia cenderung sulit berpikir jernih.

Dari semua ini dapat diambil pelajaran bahwa apa pun yang sedang tren belum tentu cocok untuk semua orang. Sama seperti memilih jurusan sekolah, membeli barang, atau mengikuti kegiatan tertentu, kita harus tahu alasan dan risikonya. Jangan hanya ikut-ikutan. Dalam dunia crypto, keputusan yang tergesa-gesa bisa menyebabkan kerugian besar, sama seperti keputusan terburu-buru dalam kehidupan sehari-hari bisa menimbulkan penyesalan.

Sikap hati-hati, tidak mudah terpengaruh, dan mau belajar adalah kunci untuk menghindari masalah, baik dalam investasi maupun dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mempertimbangkan setiap langkah, kita bisa membuat keputusan yang lebih bijak dan tidak terjebak pada penyesalan.

DAFTAR RUJUKAN
Chrysochou, P., Martin, B. A. S., & Strong, C. (2024). Effects of the Fear of Missing Out About Investing in
Cryptocurrency on Consumer Values: The Role of Materialism. In Advances in Blockchain Research and
Cryptocurrency Behaviour. De Gruyter. De Gruyter Brill+1, diakses Agustus 2025.

Edwards, J. (2025, 15 Oktober terupdate). Bitcoin’s Price History. Investopedia, diakses September. Tirto.id., diakses
September 2025.

IJMH. 2025. “Investigating the Role of Regret, FOMO and Financial Literacy in Cryptocurrency Speculation.” (2025).
International Journal of Mental Health and Addiction. Springer. SpringerLink, diakses Agustus 2025.

Lidyana, V. (2024, 9 Agustus). Kapan Mata Uang Digital Ditemukan? Simak Sejarahnya. IDN Times. IDN Times,
diakses September 2025

BIODATA PENULIS
Nama : Ahmad Rasyid Aradhana
TTL : Yogyakarta, 10 Desember 2007
Hobi : Bersepeda
Cita-cita : Engineering
Moto : 拉希德俊
mendapat petunjuk, yang lurus, yang bijaksana-