Koruptor Diampuni Rakyat Dicambuki

Indonesia dikenal sebagai negara hukum. Artinya, segala sesuatu seharusnya berjalan berdasarkan aturan yang ada, seperti yang tercantum dalam Pancasila dan UUD 1945 (Sandhi, 2021). Namun, belakangan ini konsep tersebut terasa seperti mulai memudar. Banyak kasus yang menunjukkan bahwa penegakan hukum di Indonesia masih jauh dari ideal. Jika penegakan hukum benar-benar berjalan dengan baik, Indonesia sebenarnya bisa menjadi negara yang lebih makmur, adil, dan dipercaya oleh
rakyatnya. Sayangnya, realitas yang terlihat saat ini masih jauh dari harapan.

Dalam berbagai pemberitaan, hukum di Indonesia sering digambarkan seperti piramida terbalik: tumpul di atas dan tajam di bawah. Gambaran ini sebenarnya sudah sangat sering kita dengar. Maksudnya, hukum terasa keras dan tegas terhadap masyarakat kecil atau mereka yang tidak punya kekuasaan. Namun, hukum terlihat “lunak” atau longgar ketika berhadapan dengan orang-orang yang punya jabatan, uang, atau kekuatan politik. Kondisi ini membuat banyak orang merasa bahwa hukum di Indonesia belum sepenuhnya berpihak pada keadilan, melainkan pada siapa yang lebih kuat.

Salah satu contoh yang banyak diperbincangkan adalah kasus seorang pria berinisial M (44) yang diberitakan oleh Kompas.com (2025). Ia ditangkap karena diduga mencuri lima potong kayu sono keling di hutan negara Paliyan, Gunungkidul, DI Yogyakarta. Tindakannya membuat ia terancam hukuman penjara hingga lima tahun. Jika dilihat dari kasusnya, pria tersebut mencuri kayu yang nilainya tidak terlalu besar dan kemungkinan besar dilakukan karena kebutuhan ekonomi. Namun, hukuman yang mengancamnya sangat berat.

Kasus ini sangat kontras dengan berita yang disampaikan Liputan6.com (2017) mengenai Ketua DPRD Bengkalis, Heru Wahyudi, yang terbukti melakukan korupsi dana bantuan sosial sebesar Rp31 miliar. Meski jelas-jelas merugikan negara dalam jumlah yang sangat besar, ia hanya dijatuhi hukuman 18 bulan penjara. Perbedaan mencolok ini membuat masyarakat bertanya-tanya: bagaimana mungkin seorang koruptor yang merugikan banyak orang justru mendapatkan hukuman yang jauh lebih ringan dibandingkan seseorang yang mencuri kayu demi bertahan hidup?

Melihat kondisi tersebut, jelas bahwa penegakan hukum di Indonesia sedang mengalami kemunduran. Keadilan tidak lagi terasa seimbang. Seseorang yang berada
dalam posisi lemah bisa dihukum berat, sedangkan mereka yang memiliki kekuasaan dapat lolos dari hukuman yang seharusnya lebih tegas. Hal ini tentu menimbulkan kekecewaan dan membuat masyarakat ragu terhadap sistem hukum yang seharusnya melindungi semua warga negara. Lalu, pertanyaannya: masih adakah rasa
keadilan di negara ini?

Melihat situasi seperti ini, Indonesia memang perlu melakukan reformasi hukum secara menyeluruh. Aturan-aturan harus disesuaikan dengan perkembangan zaman, dan yang terpenting, penegakan hukum harus dilakukan secara adil, tegas, dan konsisten. Hukum idealnya melindungi seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya kelompok tertentu. Sila kelima Pancasila, “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, harus benar-benar diwujudkan, bukan hanya menjadi tulisan dalam teks Pancasila.

Konstitusi dan berbagai undang-undang sebenarnya sudah mengatur tentang sistem hukum Indonesia. Tugas pemerintah sekarang adalah memastikan bahwa aturan tersebut dilaksanakan dengan benar. Salah satu langkah penting adalah menegakkan supremasi hukum, yaitu situasi ketika hukum berada di atas kekuasaan mana pun (Teofilus, 2024). Dengan menjunjung tinggi supremasi hukum, Indonesia dapat membangun masyarakat yang lebih adil, aman, dan percaya pada negara. Ketika semua orang diperlakukan sama di mata hukum, barulah makna negara hukum benar-benar terasa bagi seluruh rakyatnya.

Ketimpangan hukum yang terjadi saat ini tidak hanya berdampak pada masyarakat luas, tetapi juga membentuk cara pandang generasi muda, khususnya para siswa di sekolah. Jika sejak dini mereka menyaksikan bahwa hukum dapat dipermainkan oleh kekuasaan, maka rasa percaya terhadap keadilan bisa perlahan memudar. Dengan demikian, sekolah memiliki peran penting dalam menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian untuk membela kebenaran. Siswa perlu dibimbing agar
memahami bahwa keadilan harus diperjuangkan, bukan sekadar ditunggu. Dengan membangun kesadaran hukum sejak bangku sekolah, diharapkan lahir generasi yang berani menolak korupsi, menjunjung tinggi keadilan, dan menjaga martabat hukum di Indonesia.

DAFTAR RUJUKAN
Kompas.com. (2025). Mencuri 5 potong kayu, pria di Gunungkidul terancam dipenjara 5 tahun. Kompas (Regional).
https://regional.kompas.com/read/2025/01/16/113933878/mencuri-5-potong-kayu-pria-di-gunungkidulterancam-
dipenjara-5-tahun, diakses Agustus 2025.

Liputan6.com. (2006). Kasus Korupsi Rp 31 M, Ketua DPRD Bengkalis Divonis 1,5 Tahun Bui. https://www.liputan6.
com/regional/read/2974957/kasus-korupsi-rp-31-m-ketua-dprd-bengkalis-divonis-15-tahun-bui, diakses
September 2025.

Sarudi. (2021). Indonesia sebagai negara hukum. Widya Sandhi: Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya. https://
www.researchgate.net/publication/355933635_INDONESIA_SEBAGAI_NEGARA_HUKUM, diakses Agustus
2025.

Syukur, M. (2017). Kasus korupsi Rp 31 M: Ketua DPRD Bengkalis divonis 1,5 tahun bui. https://www.liputan6.com/
regional/read/2974957/kasus-korupsi-rp-31-m-ketua-dprd-bengkalis-divonis-15-tahun-bui, diakses Mei 2025.

Teofilus, M. (2024). Hukum dan penegakan hukum di Indonesia: Masih banyak tantangan. BINUS Character
Building. https://binus.ac.id/character-building/2024/03/hukum-dan-penegakanhukum-
di-indonesia-masih-banyak-tantangan/, diakses Juli 2025.

BIODATA PENULIS
Nama : Fikri Azhar Fauzan
TTL : Cilacap, 12 Desember 2008
Hobi : Running, leadership, dan berkelana
Cita-Cita : President of The Republic of Indonesia
Moto : “Keberhasilan datang dari usaha, bukan hanya impian”.

Retak di Balik Lengkung Bibir

Senyuman sering dianggap sebagai simbol kebahagiaan. Dalam kehidupan sehari-hari, senyuman menjadi bentuk komunikasi yang mudah dipahami. Namun, tidak semua senyuman benar-benar mencerminkan suasana hati seseorang. Banyak orang memilih untuk tersenyum meski hatinya sedang terluka. Fenomena ini menunjukkan bahwa senyuman dapat menjadi topeng untuk menutupi kesedihan, rasa lelah, atau tekanan batin yang dialami seseorang. Senyuman kerap dipandang sebagai tanda bahagia atau ketulusan. Hampir setiap hari, masyarakat menjumpai berbagai bentuk senyuman, baik dari keluarga maupun teman.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2021) menekankan pentingnya pencegahan dan pengendalian gangguan mental. Imbauan tersebut sejalan dengan realitas sosial bahwa masih banyak masyarakat yang memilih menyembunyikan perasaannya demi menjaga citra diri. Tidak jarang, hal ini diwujudkan dengan tetap tersenyum agar terlihat baik-baik saja. Halodoc (2019), dalam artikelnya berjudul “Seperti Tersenyum, Ini Bahaya Smiling Depression di Balik Sosok Joker”, menjelaskan fenomena smiling depression, yaitu kondisi ketika seseorang tampak bahagia di luar tetapi menyimpan luka mendalam di dalam dirinya. Tokoh Joker dalam film populer menjadi gambaran nyata bagaimana senyum dapat menjadi simbol penderitaan yang tidak terlihat.

Senyuman tidak selalu mencerminkan kondisi hati seseorang. Penilaian terhadap kebahagiaan seseorang tidak dapat hanya didasarkan pada senyuman. Jika senyuman dipaksakan untuk menutupi masalah, kondisi tersebut justru berisiko memperburuk keadaan psikologis. Oleh karena itu, penting untuk membangun lingkungan yang sehat dan mendukung. Lingkungan seperti itu perlu memberikan ruang bagi setiap individu untuk bercerita apa adanya tanpa takut dihakimi.

Aspek yang paling berbahaya dari “senyuman palsu” bukan terletak pada senyum tersebut, melainkan pada tekanan untuk terus menampilkan wajah bahagia demi diterima oleh lingkungan. Masyarakat sering kali menilai seseorang berdasarkan tampilan luar, bukan keadaan batin yang sesungguhnya (Kompas, 2021). Padahal, tidak semua orang yang tersenyum sedang berada dalam keadaan baik, dan tidak semua orang yang diam berarti lemah. Sikap saling mendengarkan dan memahami dapat membantu menyelamatkan lebih banyak individu yang sedang berjuang dalam kesenyapan.

Senyuman memang indah, tetapi tidak selalu menjadi tanda kebahagiaan. Di balik senyuman yang tampak hangat, bisa saja tersimpan rasa lelah, sedih, atau tekanan batin yang sulit dibagikan. Oleh sebab itu, penting untuk tidak hanya melihat apa yang tampak dari luar. Kepedulian terhadap orang di sekitar perlu terus ditumbuhkan. Dalam banyak situasi, mendengarkan tanpa menghakimi jauh lebih berarti daripada memberikan banyak nasihat.

Pada akhirnya, senyuman yang paling indah bukanlah yang dibuat untuk menyenangkan orang lain, melainkan yang muncul dari hati yang tenang dan damai. Di lingkungan sekolah, tidak sedikit siswa yang tetap tersenyum di depan guru dan teman-temannya, meskipun sedang menghadapi tekanan akademik, masalah keluarga, atau konflik pertemanan. Mereka berusaha terlihat kuat agar tidak dianggap lemah atau berbeda. Padahal, keberanian untuk jujur mengenai luka dan kesedihan justru merupakan bentuk kekuatan yang sesungguhnya. Oleh karena itu, sekolah perlu menjadi ruang yang aman bagi setiap siswa untuk berbagi cerita tanpa rasa takut dihakimi. Dengan adanya sikap saling peduli, mendengarkan, dan memahami, senyuman yang lahir dari ketenangan hati dapat tumbuh secara alami di antara para pelajar.

DAFTAR RUJUKAN
Halodoc. 2019. Seperti Tersenyum, Ini Bahaya Smiling Depression di Balik Sosok Joker. https://www.halodoc.com/
artikel/seperti-tersenyum-ini-bahaya-smiling-depression-di-balik-sosok-joker, diakses Agustus 2025.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2021. Pencegahan dan Pengendalian Gangguan Mental di Indonesia.
KemenkesRI.com, diakses September 2025.

Kompas.com. 2021. Senyuman Bisa Menyembunyikan Kesedihan, Kenali Tandanya. https://www.kompas.com,
diakses September 2025.

BIODATA PENULIS
Nama : Dhafa Emeraldo Maulidytamaka
TTL : Sidoarjo,30 Maret 2008
Hobi : Badminton
Cita-cita : Dokter
Moto : Jadilah versi terbaik dari dirimu sendiri

Terperangkap di Puncak Harga

Perkembangan zaman yang semakin maju membuat teknologi terus berubah, termasuk dalam cara orang mengelola uang. Jika dulu orang hanya mengenal tabungan atau investasi sederhana, sekarang banyak yang tertarik pada investasi digital seperti crypto. Pada tahun 2008, Satoshi Nakamoto memperkenalkan Bitcoin, tetapi pada awalnya tidak banyak orang yang memahami apa itu crypto (Chrysochou & Strong, 2024). Baru pada tahun 2011–2013 teknologi ini mulai dikenal luas, hingga akhirnya mencapai puncaknya pada tahun 2017 ketika harga Bitcoin naik sangat tinggi (Lidyana, 2024).

Kenaikan harga yang cepat membuat banyak orang ikut membeli karena takut ketinggalan. Fenomena ini dikenal sebagai FOMO (fear of missing out). Hal seperti ini sebenarnya sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari (IJMH, 2025). Misalnya, ketika ada jajanan viral atau tren baru, banyak orang ikut membeli hanya karena ramai, bukan karena benar-benar butuh. Dalam dunia crypto, perilaku seperti ini berisiko besar karena harganya bisa naik-turun sangat cepat.

Menurut Edwards (2025), banyak orang yang membeli crypto saat harganya sudah tinggi karena tergoda melihat orang lain pamer keuntungan, terutama di media sosial. Sama seperti ketika melihat teman unggah barang baru, ada keinginan untuk ikut juga agar tidak merasa tertinggal. Padahal, membeli sesuatu tanpa mempertimbangkan risiko bisa berakhir mengecewakan. Hal ini dibuktikan oleh penelitian dalam International Journal of Mental Health and Addiction (2025) yang menyebutkan bahwa FOMO sering muncul bersama perasaan menyesal. Orang takut ketinggalan, tetapi setelah membeli, justru stres karena harga turun.

Menurut penelitian Chrysochou dan rekan-rekan, FOMO juga dipengaruhi keinginan untuk terlihat keren atau sukses di mata orang lain. Ini sangat relevan dengan kehidupan remaja sekarang. Banyak siswa SMA yang terpengaruh konten “cepat kaya”, misalnya video profit besar dari trading. Padahal, belum tentu semua yang ditampilkan benar adanya. Tak jarang konten seperti itu membuat orang tergesa-gesa mengambil keputusan tanpa mempelajari risiko.

Menurut Lidyana (2024), secara umum, ada dua tipe orang dalam berinvestasi di crypto. Pertama, mereka yang mempelajari analisis, memahami risiko, dan menentukan batas untung serta batas rugi. Tipe orang seperti ini tidak mudah panik ketika harga berubah. Tipe kedua adalah mereka yang hanya mengejar keuntungan cepat. Ketika harga turun, mereka bingung dan akhirnya memaksakan diri menahan kerugian dengan harapan harga kembali naik. Fenomena ini mirip dengan kehidupan seharihari: ketika terbawa emosi, manusia cenderung sulit berpikir jernih.

Dari semua ini dapat diambil pelajaran bahwa apa pun yang sedang tren belum tentu cocok untuk semua orang. Sama seperti memilih jurusan sekolah, membeli barang, atau mengikuti kegiatan tertentu, kita harus tahu alasan dan risikonya. Jangan hanya ikut-ikutan. Dalam dunia crypto, keputusan yang tergesa-gesa bisa menyebabkan kerugian besar, sama seperti keputusan terburu-buru dalam kehidupan sehari-hari bisa menimbulkan penyesalan.

Sikap hati-hati, tidak mudah terpengaruh, dan mau belajar adalah kunci untuk menghindari masalah, baik dalam investasi maupun dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mempertimbangkan setiap langkah, kita bisa membuat keputusan yang lebih bijak dan tidak terjebak pada penyesalan.

DAFTAR RUJUKAN
Chrysochou, P., Martin, B. A. S., & Strong, C. (2024). Effects of the Fear of Missing Out About Investing in
Cryptocurrency on Consumer Values: The Role of Materialism. In Advances in Blockchain Research and
Cryptocurrency Behaviour. De Gruyter. De Gruyter Brill+1, diakses Agustus 2025.

Edwards, J. (2025, 15 Oktober terupdate). Bitcoin’s Price History. Investopedia, diakses September. Tirto.id., diakses
September 2025.

IJMH. 2025. “Investigating the Role of Regret, FOMO and Financial Literacy in Cryptocurrency Speculation.” (2025).
International Journal of Mental Health and Addiction. Springer. SpringerLink, diakses Agustus 2025.

Lidyana, V. (2024, 9 Agustus). Kapan Mata Uang Digital Ditemukan? Simak Sejarahnya. IDN Times. IDN Times,
diakses September 2025

BIODATA PENULIS
Nama : Ahmad Rasyid Aradhana
TTL : Yogyakarta, 10 Desember 2007
Hobi : Bersepeda
Cita-cita : Engineering
Moto : 拉希德俊
mendapat petunjuk, yang lurus, yang bijaksana-

Fédération Internationale de l’Automobile (FIA) adalah lembaga yang mengatur berjalannya kegiatan di dunia motorsport. Mulai dari gelaran puncak seperti Formula 1, kejuaraan reli dunia WRC (World Rally Championship), hingga penyusunan regulasi teknis kendaraan balap (ID Times, 2025). Meskipun memiliki otoritas besar, FIA tetap tidak lepas dari berbagai kontroversi yang memicu kemarahan para penggemar motorsport. Masalah politik internal, aturan yang dianggap terlalu membatasi, hingga keputusan yang tidak konsisten sering kali menjadi sumber perdebatan.

Salah satu peran utama FIA adalah sebagai pengatur internasional yang mengawasi berbagai disiplin olahraga mobil (Saunders, 2024). FIA juga bertanggung jawab menentukan dan menerapkan peraturan teknis serta olahraga dalam balap mobil. Hal ini mencakup penentuan spesifikasi kendaraan, seperti dimensi, berat mesin, dan aerodinamika, sehingga semua tim dapat berkompetisi secara adil dalam satu standar yang sama.

Meski memiliki reputasi yang kuat, FIA kerap menjadi sorotan akibat sejumlah keputusan yang dianggap tidak relevan atau terlalu mengutamakan kepentingan tertentu. Salah satu contoh kontroversi terbesar adalah insiden di Abu Dhabi GP 2021. Balapan tersebut menjadi penentu juara dunia Formula 1 tahun 2021 antara Max Verstappen, pembalap asal Belanda, dan Lewis Hamilton, pembalap asal Inggris (Tafà, 2025). Lewis Hamilton memimpin hampir sepanjang balapan setelah menyalip Verstappen di lap pertama. Namun, situasi berubah drastis ketika Nicholas Latifi mengalami kecelakaan di lap ke-53 sehingga safety car harus dikeluarkan. Kondisi ini menghapus jarak antara Hamilton dan Verstappen.

Keputusan Michael Masi, Race Director FIA saat itu, kemudian menimbulkan kontroversi besar. Ia mengizinkan beberapa mobil yang tertinggal satu lap untuk melakukan unlapping, tetapi hanya mobil yang berada di antara Verstappen dan Hamilton. Mobil-mobil lain yang berada di belakang Verstappen tidak diberikan izin unlapping (ID Times, 2025). Keputusan tersebut menciptakan situasi yang tidak biasa dan memberi kesempatan bagi Verstappen untuk mengambil alih posisi terdepan dan bmemenangkan kejuaraan dunia pada tahun itu.

Pasca-insiden tersebut, FIA mendapat kritik keras karena dianggap tidak konsisten dalam menerapkan aturan. Banyak penggemar menilai bahwa keputusan tersebut merusak integritas olahraga. Bahkan sebagian penggemar menyebut gelar juara dunia 2021 sebagai “tidak sah”. Namun FIA menegaskan bahwa keputusan Race Director bersifat final dan tetap dinyatakan sesuai kewenangan yang berlaku. Pernyataan itu tidak serta-merta meredakan protes, justru membuat citra FIA semakin dipertanyakan.

Kasus ini memberikan pelajaran bahwa dalam sebuah organisasi yang memegang kontrol besar, keadilan dan konsistensi adalah hal yang sangat penting. Keputusan harus dibuat berdasarkan aturan yang jelas agar tidak menimbulkan keraguan. Hal ini juga relevan dalam kehidupan pelajar SMA. Misalnya, ketika guru membuat aturan kelas, panitia membuat peraturan lomba, atau OSIS menentukan SOP kegiatan sekolah. Jika aturan tidak konsisten atau berubah-ubah, siswa bisa merasa dirugikan dan muncul ketidakpercayaan, persis seperti yang terjadi di dunia balap. Dengan demikian, evaluasi dan perbaikan sistem sangat diperlukan agar kepercayaan tetap terjaga, baik di sekolah maupun dalam olahraga internasional, dapat berjalan dengan adil.

DAFTAR RUJUKAN
ID Times. 2025. Kenapa Formula 1 disebut puncak motorsport? https://www.idntimes.com/sport/arena/kenapaformula-
1-disebut-puncak-motorsport-c1c2-01-vwyxr-w3p1l2, diakses Oktober 2025.

Saunders, N. 2024. Hamilton ‘at peace’ with controversial 2021 Abu Dhabi GP. ESPN. https://www.espn.com/f1/
story/_/id/39864893/hamilton-peace-controversial-2021-abu-dhabi-gp, diakses September 2025.

Tafà, R. 2025. Apa fungsi FIA dalam olahraga motor? RTR Sports. https://rtrsports.com/id/blog/apa-fungsi-fia-dalamolahraga-
motor/, diakses Oktober 2025.

BIODATA PENULIS
Nama : Afiq Ridhwan Hanif Abdul Aziz
TTL : Tanjungpinang 31 Mei 2008
Hobi : Fotografi, baca buku, dan kuliner
Cita-Cita : Fotografer andal
Moto : “when you think its impossible just remember that jenson did it with brawlGP-”

Menyambut Hari Raya Idul Adha dengan Ragam Amalan Sunnah dan Makna Ibadah Kurban

Sebentar lagi kita akan bertemu lagi dengan Hari Raya Idul Adha di tahun ini. Mari kita bersiap-siap menyambut hari raya ini dengan gembira!

Sebelum melangkah masuk ke hari raya Idul Adha, umat muslim disunnahkan berpuasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah) dan Arafah (9 Dzulhijjah). Anjuran menunaikan puasa sunnah ini dapat menghapus dosa setahun untuk puasa Tarwiyah, sedangkan puasa Arafah (bagi yang tidak berhaji) akan menghapus dosa dua tahun (setahun yang lalu dan setahun yang akan datang).

Pada hari raya Idul Adha, ada salah satu amalan sunnah lainnya, yaitu umat muslim disunnahkan tidak makan sebelum salat id agar dapat memakan daging kurban setelah disembelih.

“Apabila datang hari raya Idul Fitri, maka makanlah sebelum keluar (untuk shalat Idul Fitri). Dan apabila datang hari raya Idul Adha, maka janganlah makan sebelum kalian kembali (dari shalat Idul Adha), agar kalian makan dari kurban kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Salat id dilaksanakan dengan mengumandangkan takbir zawaid. Kemudian selesai salat, umat muslim harus tetap duduk untuk mendengarkan khutbah sampai selesai. Selesai salat, dilanjutkan dengan ibadah kurban sebagai pelaksanaan amalan Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijjah). Kurban berlangsung selama tiga hari, yaitu pada hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) dengan batas waktu penyembelihan sebelum matahari terbenam di hari terakhir. 

Anjuran berkurban sangat dianjurkan (bagi yang mampu) untuk dilakukan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Bagi orang yang berkurban, disunnahkan untuk tidak memotong kuku mulai dari tanggal 1 Dzulhijjah sampai kurban.

Ketika berkurban, kita diajarkan bahwasanya bukan hanya harta serta hewan ternak yang dikorbankan, melainkan ego dan keinginan pribadi yang dikesampingkan untuk menaati Allah SWT. Harta yang kita dapat merupakan titipan dari Allah dan terdapat hak milik orang lain di dalamnya. Maka, cara membersihkan harta kita dari sifat kikir adalah dengan berkurban. Potongan daging yang dibagikan kepada orang-orang nantinya akan memupuk rasa peduli pada sesama serta meringankan beban dari orang yang kurang mampu.

Berkurban bukan berarti hanya menyembelih hewan lalu membagikan dagingnya kepada orang-orang. Ibadah kurban dilakukan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, mengasa

h kepedulian sosial, dan sebagai teladan ketakwaan Nabi Ibrahim AS. Melalui cara ini, umat islam meneladani sikap Nabi Ibrahim AS agar selalu memperkuat iman dan keyakinan kepada Allah SWT dengan penuh keikhlasan dan kesabaran.

Dengan memahami rangkaian amalan sunnah dan makna ibadah kurban pada Hari Raya Idul Adha, kita diajak menyambut hari raya dengan persiapan terbaik. Semoga Idul Adha tidak berlalu begitu saja menjadi rutinitas tahunan, melainkan menjadi momentum bagi umat muslim untuk memperkuat iman, meneladani keteguhan Nabi Ibrahim AS, dan menyebarkan kebahagiaan kepada orang-orang yang membutuhkan.

Selamat menyambut Hari Raya Idul Adha! Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa.

Menggugat Standar Pengasuhan dan Keamanan Daycare Bagi Anak

Bagi orang tua yang disibukkan oleh pekerjaan atau kegiatan lain, daycare menjadi kebutuhan primer sebagai tempat penitipan anak mereka. Melalui layanan ini, orang tua dapat melepas kekhawatiran akan keselamatan dan pemenuhan kebutuhan anak meski tidak sedang berada di sisi mereka. Namun, hal yang masih menjadi pertanyaan adalah, apakah dengan modal kepercayaan saja sudah cukup menjamin kualitas pengasuhan yang diterima anak?

Daycare bukan hanya sekadar tempat penitipan fisik di mana anak hanya perlu disuapi dan ditidurkan hingga jam penjemputan tiba. Sebagai lembaga resmi yang menyediakan pelayanan pengasuhan sampai pendidikan prasekolah, setiap aktivitas di dalamnya harus selaras dengan tujuan semestinya. Pengasuhan di sini boleh dimaknai sebagai pengawasan sementara, seperti di waktu-waktu tertentu, melainkan sebuah komitmen penuh untuk mencukupi kebutuhan anak, baik secara fisik, emosional, maupun kognitif.

Mengasuh anak bukan sekadar profesi asal-asalan yang bisa dijalankan tanpa keahlian khusus. Mengingat anak usia dini berada dalam fase pertumbuhan krusial, kompetensi pengasuh perlu diperhatikan secara mendetail. Suatu lembaga daycare tidak hanya wajib memiliki rasio jumlah staf yang sebanding dengan jumlah anak, tetapi juga harus memastikan setiap pengasuhnya memiliki sertifikasi khusus. Hal ini penting para pengasuh mampu memahami aspek psikologis anak, mampu memberikan stimulasi pendidikan yang tepat, serta memiliki manajemen emosi yang stabil dalam menghadapi dinamika perilaku anak.

Selain faktor SDM, lingkungan tempat daycare perlu diperhatikan lebih lanjut mengenai keamanan dan pemenuhan kebutuhan anak. Lingkungan yang menjamin keselamatan bukan hanya sekadar ruangan yang bersih dan aman, melainkan juga memiliki desain ramah anak dan ruang terbuka sebagai area pemenuhan kebutuhan rangsangan sensori. Pengawasan penuh dari berbagai pihak layanan, seperti staf atau petugas keamanan juga wajib ditekankan untuk meminimalisir tindakan merugikan.

Oleh karena itu, pemerintah wajib melakukan audit secara berkala di tiap-tiap daycare. Hal ini diperlukan untuk memastikan kepatuhan terhadap standar perizinan, kualitas SDM, hingga kelayakan fasilitas dan metode pengasuhan anak. Jangan sampai suatu lembaga layanan masyarakat seperti daycare mendapatkan kompromi terhadap keselamatan dan perlindungan anak. 

Mengenal Berbagai Metode Pembelajaran Populer

Setiap orang tua tentunya ingin putra-putrinya mendapatkan pendidikan yang terbaik melalui metode pendekatan pembelajaran yang sesuai untuk mereka. Namun, yang menjadi pertanyaan mendasar adalah, bagaimana cara memilih metode pembelajaran yang sesuai untuk putra-putri kesayangan?

Seringkali kita dibuat bingung oleh berbagai pilihan metode pembelajaran anak, seperti Montessori, IB (International Baccalaurate), Cambridge, Sentra, hingga Reggio Emilia. Setiap metode memiliki filosofi, struktur, dan manfaatnya sendiri untuk mengembangkan kemampuan anak. Untuk mengetahui struktur metode pembelajaran mari kita bahas secara lanjut bagaimana teknis pembelajaran tersebut berlangsung dalam kegiatan belajar mengajar.

Montessori: Kemandirian dan Keterampilan Hidup
Montessori adalah metode pendidikan yang dikembangkan untuk menekankan kemandirian eksplorasi, dan pembelajaran berbasis pengalaman untuk anak-anak. Anak-anak akan memilih kegiatan berdasarkan minat mereka sendiri, sementara orang dewasa berperan sebagai pemandu yang menyediakan alat sebagai media pembelajaran. Fokusnya adalah penguasaan satu keterampilan secara tuntas sebelum pindah ke tingkat berikutnya.

IB (International Baccalaureate): Berpikir kritis dan Inkuiri
IB (International Baccalaureate) merupakan sistem pendidikan internasional yang telah diakui secara global. Konsep metode ini dirancang untuk mengembangkan siswa yang berpikir kritis, mandiri, dan mampu beradaptasi di lingkungan internasional. Anak-anak akan diajak menelusuri masalah nyata melalui kemampuan berpikir kritis mereka untuk menemukan solusi. Guru dalam pembelajaran ini bersikap sebagai fasilitator diskusi dan pemantik yang memicu diskusi antar siswa.

Cambridge: Penguasaan Akademik yang Mendalam
Cambridge berfokus pada pengembangan kemampuan berpikir kritis, pemahaman mendalam, dan pembelajaran aktif. Biasanya metode pembelajaran ini menggunakan kurikulum yang menekankan proses belajar dan pemahaman materi secara mendalam. Dalam metode pembelajaran ini, guru memberikan instruksi yang jelas, memastikan setiap siswa mencapai target kompetensi yang tepat.

Sentra: Pijakan dan Lingkaran
Metode pembelajaran sentra berfokus pada anak menggunakan sentra-sentra permainan edukatif yang dirancang dengan tema-tema berbeda dengan penyesuaian kemampuan siswa. Yang ditekankan dari metode ini adalah konsep bermain sambil belajar (sensori motorik, pembangunan, dan peran) untuk membangun karakter, kreativitas, dan kecerdasan majemuk.

Reggio Emilia: Ekspresi Diri, Seni, dan Komunitas
Reggio Emilia adalah metode pendekatan yang memandang anak sebagai individu yang cakap, kreatif, dan mampu membangun pengetahuan mereka melalui proyek jangka panjang. Pembelajaran ini dirancang fleksibel, direncanakan agar berkembang sesuai minat dan respon anak terhadap lingkungannya. Dalam metode ini, guru berperan sebagai fasilitator, peneliti, dan pendamping yang turut belajar bersama anak, sedangkan lingkungan dirancang secara estetika sebagai guru ketiga.

 

Pada akhirnya, setiap pendekatan pembelajaran memiliki konstruksi filosofis dan metodologis yang berbeda, sehingga implementasinya tidak dapat diposisikan sebagai solusi tunggal yang bersifat universal. Efektivitasnya justru terletak pada sejauh mana pendekatan tersebut mampu diadaptasi terhadap karakteristik individual peserta didik. Baik dari aspek kognitif, afektif, maupun perkembangan sosialnya.

Di Sekolah BIAS, prinsip ini diterjemahkan melalui integrasi lintas pendekatan yang bersifat kontekstual dan dinamis dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Sintesis inilah yang kami rumuskan sebagai Personal Education, yaitu sebuah pendekatan yang tidak terikat pada satu kerangka kurikulum tertentu, melainkan berorientasi pada kebutuhan belajar unik setiap anak. Sebuah pendekatan yang tidak dibangun secara instan, melainkan melalui proses panjang yang terus diuji, direfleksikan, dan disempurnakan dari waktu ke waktu.

Lebih dari itu, penting untuk dipahami bahwa kualitas pendidikan tidak semata ditentukan oleh label atau afiliasi kurikulum yang digunakan, melainkan oleh konsistensi praktik pedagogis yang dijalankan di dalamnya. Faktor kunci seperti kompetensi profesional pengajar, kualitas interaksi belajar, serta ekosistem sekolah yang mendukung perkembangan anak secara holistik justru memiliki kontribusi yang lebih signifikan terhadap capaian belajar. 

Pengalaman BIAS yang telah berlangsung selama puluhan tahun menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan lahir dari praktik yang terjaga keberlanjutannya, bukan sekadar dari adopsi konsep, tetapi dari implementasi yang matang, adaptif, dan relevan dengan perkembangan zaman. Dengan demikian, fokus utama pendidikan seharusnya tidak berhenti pada “apa kurikulumnya”, tetapi beralih pada “bagaimana proses belajar itu berlangsung” dan “siapa yang mendampingi proses tersebut”.

 

 

 

 


Ranking PISA Indonesia Menempati Peringkat Bawah

Pada usia 4 tahun anak mulai memperlihatkan kemampuan membaca. Meskipun belum secara resmi diajarkan membaca, tetapi stimulasi membaca harus sudah diberikan yaitu dengan menghadirkan tulisan di lingkungan anak, menghadirkan buku-buku di lingkunan anak, bahkan ada istilah “menenggelamkan anak dalam lautan buku”, membacakan buku cerita, akan membantu anak mulai mencintai kegiatan membaca. Selalu mengajak anak membuka dan membaca buku jika anak bertanya tentang sesuatu, membuat anak yakin bahwa semua jawaban ada di buku dan tentu saja dengan mampu membaca membuatnya bisa menemukan jawaban itu di buku.

Suka membaca tidak bisa ditanamkan secara instan tapi merupakan proses yang panjang. Menurut hasil PISA tahun 2022 yaitu studi internasional yang menilai kualitas system pendidikan dengan mengukur hasil belajar yang esensial untuk berhasil di abad 21 didapatkan bahwa score Indonesia menunjukkan penurunan dan tetap menduduki peringkat ke 11 terbawah dari 81 negara yang didata dalam hal minat baca. Sedangkan menurut UNESCO, data minat baca Indonesia sangat memprihatinkan, yaitu 0,001%. Artinya dari 1.000 orang hanya 1 yang rajin membaca.

Ada kegelisahan di Tim Balai Bahasa, apakah kegagalan itu justru ditentukan berupa  oleh pembelajaran literasi di PAUD, literasi awal sebelum anak memasuki sekolah formal. TK BIAS melakukan ini semua dengan harapan kegiatan literasi di sekolah  ini membuat anak dekat dengan buku dan anak mencintai membaca buku. Tentu saja syarat untuk anak mampu membaca tidak boleh dilewatkan, seperti membedakan bunyi, menyebutkan beberapa kata  dengan awalan atau akhiran yang sama, menegnal symbol, dsb.

Prinsip-prinsip pengajaran di TK BIAS meliputi habit forming, persuasive, human approach, dan bermain sambil belajar diimpelementasikan dalam aktivitas harian. Prinsip-prinsip ini juga diimplementasikan dalam literasi dengan didukung sarana dan peraga yang memadai menurut Bapak Umar Sidik merupakan pembelajaran yang ideal.

.

 

 

 

 

PENGETAHUAN BARU DI PABRIK PENGOLAHAN TEBU DAN ALKOHOL

KEGIATAN SERU ODI BIAS BOARDING SCHOOL

Salah satu tanaman yang banyak khasiatnya adalah tanaman tebu. Selain dapat menyegarkan dahaga dikala haus melanda, tebu juga memiliki deretan manfaat yang banyak bagi kesehatan manusia. Olahan tebu juga dapat dijadikan dalam berbagai komoditas seperti gula, bahan masakan, spirtus, handsanitizer dan bahkan alkohol yang berguna bagi kehidupan manusia. Tentu hal ini akan sangat menarik untuk dipelajari sebagaimana kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) vierual yang dilaksanakan oleh SD BIAS Yogyakarta ke Pabrik pengolahan tebu dan alkohol di madukismo. PKL Virtual ini dilaksanakan secara online yang disiarkan live streaming di youtube pada Kamis (30/9) pukul 08.00-10.00 WIB.

Kunjungan virtual kali ini adalah Pabrik Gula dan Spirtus di Madukismo, Bantul, Yogyakarta. Pabrik ini bernama PT Madubaru yang berdiri sejak tahun 1955. Sebelum mempelajari pengolahan tebu di dalam pabrik, tentu anak anak diajak berkenalan dengan tanaman tebu itu sendiri. Dengan dipandu oleh Ustadz Wahyu dan Ustadz Edi, anak anak menjadi paham klasifikasi dan jenis tanaman tebu yang akan diolah nantinya. Kemudian kegiatan dilanjut dengan mengenal alat alat pengolahan tebu yang tersedia dalam pabrik. Dalam sesi ini, Ustadz Wahyu dan Ustadz Edi dibantu oleh Pak Mahmud selaku staff PT Madu Baru dalam menjelaskan alat alat yang sedang digunakan, mengingat pabrik tersebut sudah lama beroprasi selama setengah abad lebih tentunya perlu ada penjelasan khusus secara historis oleh pegawai/orang yang berpengalaman dalam Pabrik tersebut. Di dalam tahap pengolahan terdapat alat penggilingan yang berfungsi untuk mengubah tanaman tebu menjadi air yang ada didalamnya. Tahap selanjutnya adalah proses ekstrasi yang memisahkan air tebu asli dengan ampas yang masih menempel pada air tebu. Kemudiann ada juga alat sulvitasi untuk membersihkan nira/cairan murni dari air tebu yang selanjutnya diuapkan menggunakan alat evaporator yang menyisakan air nira/calon gula. Setelah jadi cairan nira, tahap selanjutnya adalah dimasak agar menjadi kristal gula meskipun masih terdapat karamel yang menempel dan akan dipisahkan dengan alat penyaring gula. Pengolahan tebu seperti ini dapat diturunakan juga menjadi alkohol/spritus dan handsanitizer yang diambil dari tetes tebu. Alkohol disini adalah alkohol yang berfungsi sebagai medis dan kecantikan

Dengan adanya kegiatan PKL Virtual SD BIAS Yogyakarta ini diharapkan menjadi pemicu semangat anak anak dalam mempelajari bahan bahan makanan dan olahan komoditas yang berasal dari bahan tanaman tebu.

Lomba ini mengusung tema “Menumbuhkan Nilai Kepahlawanan pada Generasi Muda”. Tema ini memiliki latar belakang yang bercorak historis, salah satunya adalah penegakan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tak lepas dari peran dan jasa pengorbanan pahlawan yang tulus, ikhlas dan tanpa pamrih memperjuangkan kembali hak hak masyarakat Indonesia saat jaman penjajahan. Nilai nilai kepahlawanan yang muncul saat itu menjadi inspirasi bagi masyarakat modern sebagai role model kehidupan sosial bermasyarakat.

Oleh karenanya sangatlah penting bagi remaja/pemuda sebagai salah satu penerus arah perjuangan bangsa untuk menuangkan ide ide brilian yang komprehensif untuk mencapai suatu nilai kepahlawanan dan patriotisme dalam bentuk tulisan sebagaimana lomba yang diadakan Dinas Sosial DIY tersebut.

Dengan beberapa Undang Undang sebagai instrumen dasar dalam penulisan ananda Alya merangkai tulisan ilmiah yang sangat kompleks dan insipratif. Yaitu dengan judul  “Jadipahlawan.id Sebagai Platform Digital untuk Menanamkan Nilai Kepahlawanan Kepada Generasi Muda Indonesia”. Di dalamnya dijelaskan mengenai berkurangnya minat remaja saat ini akan literasi literasi sejarah sebagai bentuk acuan dalam menumbuhkan jiwa nasionalisme dan patriotisme. Dengan kondisi seperti ini, kita perlu mengkontekstualisasikan citra pahlawan dalam bentuk yang sesuai dengan dinamika dan minat para remaja. Tentu menghubungkan hal seperti ini tidak lah mudah bagi pemuda pada umumnya, mengingat anak muda membutuhkan teladan dari sosok pahlawan. Definisi kepahlawanan bagi anak muda saat ini sudah berbeda dengan sebelum kemerdekaan. Pahlawan adalah orang yang berjuang untuk kesejahteraan masyarakat dan membela kebenaran. Semua orang saat ini dapat menjadi pahlawan untuk bangsa Indonesia.

Untuk menanamkan nilai kepahlawanan pada generasi muda dibutuhkan cara yang sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini. Hal ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan internet dengan menciptakan platform digital.

Dengan rancangan platform jadipahlawan.id.  yang berbentuk website ini dan ditunjang dengan media sosial sepeerti Instagram serta Youtube akan menghadirkan Konten yang mencakup : kisah dari tokoh dan komunitas yang inspiratif dari 34 propinsi di Indonesia serta platform crowdfunding. Dengan platform ini diharapkan generasi muda bisa mendapatkan inspirasi dari seluruh pelosok negeri sekaligus dapat menjadi sosok pahlawan dengan bergabung di komunitas inspiratif dan berbagi lewat platform crowdfunding yang tersedia di platform.

Dengan karya yang penuh inspirasi ini, diharapkan dapat menjadi motivasi dan penyemangat anak muda dalam menanamkan jiwa jiwa nasionalisme dan patriotisme sesuai dengan dinamika perubahan zaman.

Setiap sekolah pasti memiliki bentuk masa pengenalan/orientasi sekolah yang disusun. Bentuk bentuk tersebut tentunya mengikuti alur kultur daripada sekolah itu sendiri. Begitu pula dengan SMP dan SMA BIAS Yogyakarta salah satu sekolah islam terbaik di Yogyakarta memiliki sistem Boarding School/asrama. BIAS Boarding School ini memiliki masa orientasi siswa yang sangat menarik dan inspiratif dengan nama Orientasi Dienul Islam atau biasa disebut dengan ODI. ODI merupakan kegiatan semacam MOS . Bagi siswa BIAS, inilah ajang untuk mengenali secara mendalam apa yang akan dipelajari di SMP dan SMA BIAS, bagaimana menyerap dan mengembangkan ilmu pengetahuan, bagaimana mengatur diri dan waktu, survive menjalani hidup dengan cara baru di asrama bersama teman teman dengan latar belakang yang beragam, berlatih menjadi remaja muslim agar memiliki cita-cita besar, belajar peduli agar kelak bisa andil memberi solusi.

Alhamdulillah, dengan izin Allah, tahun ajaran baru kali ini BIAS Boarding School (BBS) kembali mengadakan Orientasi Dinul Islam (ODI) pada 17-19 September 2021 yang lalu. Berbagai keseruan dengan tetap mematuhi Prokes, para siswa-siswi kelas 7-12 BBS diajak mengenal secara mendalam apa saja yang akan mereka pelajari di BIAS Boarding School: bagaimana menetapkan target hidup yang sesuai dengan tujuan Allah Ta’ala menciptakan manusia, mengatur diri dan waktu, menjalani hidup dengan cara baru di Pondok bersama teman-teman dengan berbagai latar belakang.

Kegiatan di dalamnya meliputi: Diskusi tembiring dengan topik dan tema yang menarik, outbond, pentas seni dan yang menjadi highlight adalah Program DigEn dan DynEd: program untuk menggodok siswa agar siap menghadapi tantangan dunia digital yang mengglobal.

Dengan dilaksanakannya ODI Bias Boarding School ini diharapkan menjadi pemantik semangat dan motivasi siswa dalam mengembangkan skill dan bakat akademik maupun pengembangan diri di Sekolah BIAS.

APA KATA ORANG TUA TENTANG SD BIAS YOGYAKARTA? Sekolah Bina Anak Sholeh (BIAS) Yogyakarta merupakan salah satu sekolah Islam terbaik di Yogyakarta yang berdiri pada tahun 1994 dan bernaung di bawah Yayasan Bina Anak Sholeh.

SD BIAS VIRTUAL TOUR KE MUSEUM GEOTEKNOLOGI MENIRAL UPN “VETERAN” YOGYAKARTA Indonesia merupakan negara dengan segala bentuk kekayaan alamnya. Sumber daya alam yang ada menjadi sorotan khusus bagi para ilmuwan, khususnya bagi peneliti bebatuan, mineral dan fosil.

APA PENDAPAT WALISISWA TENTANG BIAS BATITA CENTER ? Bagi kebanyakan orang tua, pendikan merupakan kebutuhan primer yang harus dipenuhi untuk mengasah pengetahuan dan skill sang anak.

GALERI

Hubungi Kami Lembaga Pendidikan Islam Terpadu Bina Anak Sholeh Yogyakarta
Hari Kerja (Senin – Jumat) : 07.00 – 16.00 WIB
Sabtu : 08.00 – 14.00 WIB
Komplek Perkantoran BIAS  Jl. Wirosaban Barat No. 6
Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 

Telepone 0274 – 410 350
Email Sibibias@gmail.com

Informasi Tentang
Lembaga
Penerimaan Siswa Baru

Membaca Tulisan Namanya dan Nama Teman-temannya

PENYAMBUTAN DI BATITA & PLAYGROUP BIAS

Mengenal diri bagi anak- anak diawali dari mengenal dirinya sendiri mulai dari identitas diri seperti namanya dan tubuhnya. Anak- anak perlu  sering disebut namanya agar mengenal siapa namanya. Anak- anak juga perlu dibantu  untuk menyebut namanya sendiri juga menyebut nama teman- temannya. Dengan memiliki kemampuan menyebut namanya dan nama temannya, anak- anak akan dapat membedakan dia dan teman- temannya.

Mengapa mengenal diri ini penting? Karena dengan mempunyai kemampuan mengenal dirinya sendiri, anak- anak akan mudah untuk bersosialisasi dengan teman dan lingkungannya. Sebagai contoh, ketika awal berteman, anak- anak akan menyebutkan siapa namanya.

Pembelajaran menyebut namanya di sekolah Play Group BIAS ( Bina Anak Sholeh) mencakup menyebut secara lisan namanya dan membaca tulisan namanya. Adapun pembelajaran membaca tulisan namanya dilaksanakan secara pembiasaan.

Bagaimana pembiasaan membaca tulisan namanya dan nama teman- temannya ? Anak- anak setiap hari bahkan setiap saat melihat tulisan- tulisan namanya dan nama teman- temannya yang tertempel di rak sepatu, rak tas, rak sandal, rak botol minum, buku prestasi ngaji dan di peraga- peraga belajar lainnya. Ustazah membiasakan membacakan tulisan namanya dan nama temannya tersebut.

Dengan demikian anak- anak akan mengenal namanya, mengenal nama temannya, bisa membaca tulisan namanya dan bisa membaca nama temannya tanpa pemaksaan.

 

 

APA KATA ORANG TUA TENTANG SD BIAS YOGYAKARTA? Sekolah Bina Anak Sholeh (BIAS) Yogyakarta merupakan salah satu sekolah Islam terbaik di Yogyakarta yang berdiri pada tahun 1994 dan bernaung di bawah Yayasan Bina Anak Sholeh.

SD BIAS VIRTUAL TOUR KE MUSEUM GEOTEKNOLOGI MENIRAL UPN “VETERAN” YOGYAKARTA Indonesia merupakan negara dengan segala bentuk kekayaan alamnya. Sumber daya alam yang ada menjadi sorotan khusus bagi para ilmuwan, khususnya bagi peneliti bebatuan, mineral dan fosil.

APA PENDAPAT WALISISWA TENTANG BIAS BATITA CENTER ? Bagi kebanyakan orang tua, pendikan merupakan kebutuhan primer yang harus dipenuhi untuk mengasah pengetahuan dan skill sang anak.

GALERI

Hubungi Kami Lembaga Pendidikan Islam Terpadu Bina Anak Sholeh Yogyakarta
Hari Kerja (Senin – Jumat) : 07.00 – 16.00 WIB
Sabtu : 08.00 – 14.00 WIB
Komplek Perkantoran BIAS  Jl. Wirosaban Barat No. 6
Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 

Telepone 0274 – 410 350
Email Sibibias@gmail.com

Informasi Tentang
Lembaga
Penerimaan Siswa Baru