INSPIRASI SYEKH AL-SYA`RAWI

Amin Si Anak Petani

Ayahnya adalah seorang petani Mesir yang sederhana. Al-Sya`rawi kecil (ketika kecil dia dipanggil dengan nama ‘Amin’) pun seperti anak-anak sebayanya. Pergi ke sekolah, kemudian ikut membantu berladang. Cita-cita Amin pun sebatas ‘meneruskan perjuangan ayahnya’ alias jadi petani.

Sebenarnya, Amin punya bakat di bidang sastra. Sejak kecil ia bahkan sudah menghafal syair-syair Ahmad Syauqi, Si Raja Syair asal Mesir. Memang ini menjadi ‘sayembara’ ayahnya. Setiap Aminmenghafal  satu syair, ia dapat hadiah beberapa keping qirsy (piaster, seperti sen, pecahan dari pound, mata uang Mesir). Lumayan, buat uang jajan. Ketika masuk SMA al-Azhar di Zaqaziq, ia pun terpilih menjadi Ketua Persatuan Pelajar di sekolahnya (di Indonesia seperti OSIS) dan Ketua Perkumpulan Sastrawan Zaqaziq.

Amin sudah lulus SMA, waktunya jadi mahasiswa. Di dalam pikiran ayahnya sang petani sederhana itu, anak Mesir kalau sudah hafal al-Quran dan lulus sekolah ya masuk Universitas al-Azhar, untuk jadi orang benar. Amin ternyata masih bersikukuh dengan impian lamanya melanjutkan perjuangan ayahnya di ladang. Bahkan malam tes masuk al-Azhar, Amin mengoleskan merica ke matanya untuk supaya matanya menjadi merah untuk mengelabui ayahnya. Dia pura-pura sakit. Apes, ketahuan.

Ketika tes masuk al-Azhar pun dia tak kehilangan akal. Pengujinya dipermainkan dengan menjawab asal-asalan ketika diminta melanjutkan ayat al-Quran. Pengujinya bisa mencium kalau anak ini sebenarnya sudah hafal al-Quran, tapi sengaja disalah-salahkan. Akhirnya, “Lancang kau bocah!”, kata sang penguji, “Sudah sana masuk al-Azhar!” Amin diterima masuk al-Azhar, fakultas bahasa Arab.

Ayahnya datang ke Kairo untuk memastikan keadaan Amin, siapkah ia mengikuti pelajaran? Ternyata ia belum punya buku diktat. Berangkatlah mereka berdua ke toko buku. Lagi-lagi Amin berulah. Kitab-kitab yang berjilid-jilid dengan berbagai tema mulai dari bahasa, ilmu al-Quran, tafsir, dan lain-lain ditunjuknya asal-asalan. “Kali ini harus berhasil!” Begitu pikiran Amin. Ia berharap agar ayahnya menyerah ketika tahu bahwa ‘diktat’ al-Azhar besar-besar dan pasti mahal-mahal. “Berapa?” “Satu pound Pak.” Jawab pemilik toko. “Silahkan Pak, ini saya bayar satu pound.” Tanpa menawar, ayahnya langsung membayar semua kitab yang ditunjuk Amin. Ada berapa kitab yang sudah asal-asalan ditunjuk Amin?

Padahal satu pound Mesir (Le) zaman segitu, mungkin sama nilainya dengan 1700 pound zaman sekarang. 1700 pound itu kalau dirupiahkan nilainya sekitar 1,5 juta rupiah untuk kurs saat ini (Akhir Januari tahun 2021).

Amin ikut ke stasiun kereta api melepas ayahnya pulang ke Mit Ghamr, kampung halamannya. Menjelang keberangkatan kereta, ayahnya berkata, “Nak, ayah tahu kalau kitab-kitab itu sebenarnya bukan diktatmu, tapi tak apa. Semoga kitab-kitab itu membuat kamu tambah semangat belajar, semoga Allah membukakan pintu-pintu ilmu kepadamu melalui kitab-kitab itu”.

Muhammad Mutawalli al-Sya`rawi

Amin yang bandel sekarang sudah jadi Muhammad Mutawalli al-Sya`rawy yang berusia 60 tahun. Di usia ini Syekh Sya`rawy baru muncul di depan rakyat Mesir mengajarkan tafsir al-Quran. Mesir memang tak pernah langka ulama. Tapi Syekh al-Sya`rawy beda. Syekh Sya`rawi berhasil membangun madrasah rakyat dengan mutiara-mutiara tafsir al-Qurannya. Syekh al-Sya`rawi menafsirkan al-Quran dalam sebuah kajian umum dan direkam. Alhamdulillah, beliau berhasil mengkhatamkan kajian tafsir 30 juz al-Quran. Penerbit Akhbâru’l Yaum mengetik ceramah beliau dan menerbitkannya menjadi satu set Tafsir Syekh al-Sya`rawi lengkap dari surah al-Fatihah sampai surah al-Nas.

Bukan sembarang menafsir atau bicara seputar ayat al-Quran, Syekh Sya`rawi punya modal ilmu-ilmu bahasa Arab (nahwu, sharf, balaghah, lughah (kosa kata) dan adab/sastra Arab) beserta kelengkapan ilmu alat lain seperti ilmu tafsir, usul fikih, ilmu hadis, ilmu mantik (logika) dan sebagainya dari studinya di al-Azhar. Perangkat ilmu yang harus dikuasai dan dilebur menjadi kecakapan dalam diri untuk layak berbicara soal agama Islam.

Kenapa baru muncul ketika sudah 60 tahun? Kemana saja sebelumnya? Ketahuilah bahwa yang memunculkan, ‘menyembunyikan’, bahkan meredupkan orang adalah Allah. Guru-guru di al-Azhar pun sering menasehatkan untuk tidak keburu tampil, biarkan Allah yang mengatur dan menempatkan kita di posisi yang Ia Ridhai. Fokus kita sebagai pelajar adalah menuntut ilmu; hadir di majelis ilmu para ulama al-Azhar (di kampus maupun di luar kampus), mengulang pelajaran, menghafal, memperluas bacaan, berdiskusi dengan rekan-rekan sesama pelajar dan seterusnya sampai menguasai ilmu-ilmu keislaman dengan baik.

Syekh Sya`rawi menempuh jalur yang sama dengan kebanyakan pemuda Mesir lainnya. Lulus al-Azhar, ia mulai dengan menjadi guru SMA al-Azhar di berbagai kota. Ada yang menarik di sini. Bahwa yang pernah menjadi salah satu murid SMA-nya adalah Syekh Yusuf al-Qaradhawi, penulis buku al-Halâl wa’l Harâm fi’l Islâm. Ketika itu, al-Qaradhawi muda juga sangat unggul di bidang bahasa Arab. Syekh al-Qaradhawi sangat hormat dengan Syekh Sya`rawi, “Kalau saya bertemu Syekh al-Sya`rawi, saya cium tangan beliau!”

Syekh Sya`rawi yang ‘hanya’ lulus s1 al-Azhar ini karirnya dilancarkan oleh Allah. Ia pernah menjadi dosen di Universitas Ummu’l Qura, Mekah. Waktu itu dia diminta mengajar aqidah, padahal spesialisasinya adalah bahasa Arab. Tapi Syekh Sya`rawi memang dikaruniai kecerdasan dan kelengkapan bangunan keilmuan oleh Allah, jadi hal itu tak menjadi masalah besar buat beliau.

Tahun 1963, ada konflik antara Presiden Mesir Jamal Abdul Nasser dengan Raja Su`ud, Syekh Sya`rawi dilarang kembali ke Saudi. Sekembalinya dari Saudi, beliau ditunjuk menjadi direktur kantor Grand Syekh al-Azhar, Syekh Hasan Ma’mun.

Kemudian beliau kembali berpetualang, kali ini menjadi ketua rombongan delegasi al-Azhar ke Aljazair. Sampai ketika hubungan Mesir-Arab Saudi membaik, Syekh Sya`rawi kembali mengajar di Arab Saudi, kali ini di Universitas King Abdul Aziz.

Ketika Mamduh Salim menjadi perdana menteri Mesir, Syekh Sya`rawi ditunjuk menjadi Menteri Wakaf dan Urusan al-Azhar (semacam Menteri Agama di Indonesia) sampai Oktober 1978. Selama menjabat sebagai menteri, di antara prestasi beliau adalah menggolkan Bank Islam pertama di Mesir, Bank Faishal.

Syekh Sya`rawi, Teladan Soal Ihsan

Mesir adalah pusat keilmuan Islam. Sudah pasti ada banyak kajian bahkan perdebatan sengit dalam urusan pemahaman agama. Terkadang, cacian terhadap pihak lain tidak dapat dihindari. Tapi rasanya ini tidak berlaku bagi Syekh Sya`rawi. Nyaris tidak ditemukan orang Mesir yang tidak cinta dengan Syekh al-Sya`rawi, apalagi sampai mencaci beliau! Secara keilmuan beliau diakui, secara kepribadian begitu dicintai.

Seorang mahasiswa senior Universitas al-Azhar asal Indonesia pernah bercerita kepada. Waktu itu beliau diminta menjadi penerjemah seorang doktor Mesir yang berkunjung ke sebuah lembaga pendidikan di tanah air. Doktor tersebut menyampaikan sebuah cerita tentang Syekh Sya`rawi yang sangat menyentuh. Sang Senior sampai harus menitikkan air mata ketika harus menerjemahkan cerita tersebut.

Ceritanya, Syekh Sya`rawi tergeletak di ranjang karena sakit di akhir hayatnya. Murid-muridnya berkumpul di sekelilingnya. Menyemangati beliau dan mendoakan kesembuhan bagi beliau. Tapi apa jawab Syekh Sya`rawi? “Kalian ini bagaimana? Kok malah ngomong begitu? Kalian ingin ‘kenikmatan’ yang saya dapat ini dicabut?”. Akhirnya beliau wafat pada tanggal 17 Juni 1998 pada usia 87 tahun.

Begitulah Syekh Sya`rawi. Tidak hanya kapasitas keilmuan dan ceramahnya yang menginspirasi, namun juga setiap perilaku hidupnya. Beliau adalah teladan dalam berihsan, menyembah Allah seakan kita melihat-Nya. Kalaupun kita belum melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Ia melihat kita. Ihsan tak bisa berbohong, karena berhadapan dengan Yang Maha Tahu. Untuk apa memamerkan amalan di depan manusia, padahal Allah melihat ke dalam hati terdalam manusia.

Syekh Sya`rawi pulang mengajar diantar supirnya. “Berhenti sebentar di masjid depan ya.” Supirnya heran,”Ini kan belum masuk waktu solat?” Ia pun berhenti dan setia menunggu Syekh Sya`rawi yang masuk ke dalam masjid. Tapi kenapa lama sekali? Ia pun memutuskan ikut masuk ke dalam. Ternyata Syekh Sya`rawi tidak ada di setiap ruangan masjid. Ia terus mencari, ternyata Syekh Sya`rawi sedang berada di tempat wudhu, sedang ngosek (membersihkan/menyikat-jw) bak air! “Lho Syekh! Kenapa kok malah ngosek bak air?” Syekh Sya`rawi menjawab, “Tadi ketika saya mengajar, terlintas ujub dan berbangga diri di hati. Makanya saya begini supaya merendahkan diri dan menghinakannya.”

 

Ust. Musa al Azhar, Lc. Dipl.
Pasca Sarjana, Jurusan Hadits dan Ilmu Ilmu Hadits, Fak. Ushuluddin, Univ. Al Azhar Cairo.
Kontributor Jaringan Sekolah BIAS untuk Mesir dan Timur Tengah.

KAJIAN ESKATOLOGI ISLAM DI AL-AZHAR (PART I) Kajian eskatologi Islam atau yang juga nge-trend dengan nama ‘kajian akhir zaman’ itu aslinya merupakan 

KUNCI KEBERHASILAN MENUNTUT LMU Apakah kecerdasan atau IQ merupakan satu-satunya faktor keberhasilan menuntut ilmu?

MENTERI LUAR NEGERI PERANCIS MENGHADAP GRAND SYEKH AL-AZHAR Ahad, 8 November 2020, Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Yves Le Drian menghadap Grand Syekh al-Azhar

“MEMBIAYAI AGAMA”
TANGGUNG JAWAB SIAPA? 
Orang bahagia adalah orang yang pandai bersyukur. Karena dia selalu merasa cukup atas apa yang diberikan Allah. Dia sudah selesai dengan

BERHATI-HATI DENGAN “KATA NABI (SHALLALLÂHU `ALAIHI WA SALLAMA)” Dengan tergopoh-gopoh sahabat Abu Musa al-Asy`ari RadhiyalLâhu `anhu mendatangi para sahabat Nabi lain yang sedang

GALERI

Hubungi Kami Lembaga Pendidikan Islam Terpadu Bina Anak Sholeh Yogyakarta
Hari Kerja (Senin – Jumat) : 07.00 – 16.00 WIB
Sabtu : 08.00 – 14.00 WIB
Komplek Perkantoran BIAS  Jl. Wirosaban Barat No. 6
Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 

Telepone 0274 – 410 350
Email Sibibias@gmail.com