BELAJAR HADIS ITU SEPERTI APA? (PART II)

Credit Picture: sajadalife.com

Menguasai Shahih al-Bukhari

Kalau ditanya, misalnya, apa maksudnya ‘menguasai Shahih al-Bukhari’?

Kita akan bisa menemukan jawaban idealnya dengan parameter yang disebutkan Abu Syamah di atas.

Maka bentuknya akan seperti ini:
1. Menghafal dan memahami setiap hadisnya yang jumlahnya 7000-an lebih itu;
2. Menghafal dan bisa memahami persoalan sanadnya. Tidak lagi menggunakan ungkapan ‘bisa membedakan mana yang sahih dengan yang tidak’, karena sudah menjadi ijmak bahwa Shahih Bukhari isinya hadis shahih semua;
3. Menyambung sanad kepada Imam Bukhari.

Bagaimana dengan penerapannya di zaman sekarang?

Mulai dari yang ketiga terlebih dahulu. Sampai saat ini, para ulama yang memegang sanad Shahih Bukhari masih menyelenggarakan majelis periwayatan Shahih Bukhari.

Di al-Azhar, setiap dua minggu sekali ada majelis periwayatan Shahih Bukhari bersama Syekh Ahmad Ma`bad Abdul Karim dan Syekh Shubhi Abdul Fattah. Keduanya adalah guru besar hadis di Universitas al-Azhar.

Mengkaji sanad hadis Shahih Bukhari di zaman sekarang, fungsinya lebih kepada mengkaji kedalaman metode Imam Bukhari dalam menyeleksi hadis.

Ambil salah satu contoh, misalnya hadis-hadis yang dalam sanadnya terdapat perawi dhaif. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Hudâ al-Sâri yang merupakan Mukadimah dari Fathu’l Bâri sudah menjawab secara gamblang mengapa Imam Bukhari meriwayatkan dari mereka padahal statusnya dhaif atau dalam keadaan dhaif.

Misalnya ada sebuah hadis Ibnu Abbas tentang penjelasan makna al-Kautsar (hadis no. 6587). Hadis ini diriwayatkan oleh Husyaim bin Basyir dari `Atha’ bin al-Saib. Padahal riwayat Husyaim bin Basyir darinya terjadi setelah `Atha’ mengalami ikhthilath/pikun. Sehingga seharusnya hadis ini dinilai dhaif. Ternyata Imam Bukhari meriwayatkan hadis `Atha’ bin al-Saib diiringi dengan riwayat Abu Bisyr. Sehingga riwayat ini naik menjadi shahih li ghairihi (hadis daif yang dikuatkan dari jalur lain yang sahih).

Begitu juga hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dengan cara mu`allaq (tidak menyebut gurunya, langsung kepada penuturnya, misalnya: Imam Bukhari berkata, “Dari Abu Hurairah”). Hadis-hadis yang mu`allaq dalam Shahih Bukhari pun sudah dijawab oleh Ibnu Hajar dalam kitab Taghlîq al-Ta`lîq. Tidak jauh berbeda dengan hadis-hadis yang dicacatkan (mu`allal) oleh Imam Daraquthni dalam kitab Al-Ilzâmât wa al-Tatabbu`, sudah dijawab dalam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Hudâ al-Sâri.

Sehingga, para pelajar hadis zaman now tidak memulai dari nol. Pun tidak pula sudah tidak ada kerjaan lagi. Sebaliknya, ia dituntut menguasai bagaimana kedalaman proses seleksi hadis dalam Shahih Bukhari termasuk bagaimana menjawab kritikan dari ulama lain dari segi kesahihannya.

Sebagaimana dipaparkan Ibnu Hajar dalam bagian awal Hudâ al-Sâri, motifasi Imam Bukhari dalam menulis Shahih tidak hanya untuk mengarsip hadis sahih semata. Lebih dari itu, tujuannya adalah untuk keperluan istinbath hukum.

Imam Bukhari sendiri dikenal sebagai ulama yang sudah meraih derajat ijtihad, bahkan ijtihad mutlak. Hanya saja, karena lebih fokus ke khidmah hadis, madzhab fikih Imam Bukhari tidak terbangun sebagaimana empat madzhab lainnya.

Meskipun demikian, Shahih Bukhari juga menyimpan ijtihad-ijtihad Imam Bukhari dalam fikih. Salah satunya adalah ungkapan terkenal ‘fikih-nya Imam Bukhari itu ada pada cara penulisan judul bab-nya’.

Ibnu Munayyir (683 H) sampai menulis sebuah kitab yang berisi tentang syarahan terhadap judul-judul bab dalam Shahih Bukhari dan diberi judul ‘al-Mutawârî `alâ Abwâbi’l Bukhârî’.

Selain itu, dalam menempatkan hadis sesuai bab-nya Imam Bukhari dikenal memiliki kejelian tersendiri. Misalnya hadis tentang perintah Rasulullah kepada Hasan dan Husain untuk melepeh kurma sedekah dari mulut mereka (karena ahli bait tidak makan dari harta sedekah). Rasulullah menggunakan kata-kata ‘Kikh kikh’ dalam bahasa Persia.

Awalnya kita mengira bahwa hadis ini hanya terdapat dalam kitab zakat atau bab sedekah. Tapi Imam Bukhari ternyata juga meletakkan hadis ini dalam Kitab al-Jihad dan Bab ‘Barangsiapa yang bicara bahasa Persia’.

Badruddin al-Aini dalam `Umdatu’l Qâri (15/6) mengatakan bahwa hadis ini ditempatkan dalam Kitab al-Jihad untuk menunjukkan seorang pemimpin yang bisa berbicara bahasa musuh akan menjadi pengaman (dari tipu daya mereka-pen).
Sehingga, memaknai hadis dalam Shahih Bukhari pun membutuhkan perangkat ijtihad yang kuat karena ditulis oleh seorang Imam yang mencapai derajat mujtahid

Ini baru satu kitab, bisa dibayangkan betapa banyak kitab hadis yang harus di-khidmah dengan kualitas yang tinggi.

Kita belum bicara soal penelitian terhadap naskah Shahih Bukhari yang sampai saat ini masih berlanjut. Salah satu hasil penelitian naskah Shahih Bukhari di zaman ini misalnya yang dilakukan oleh Dr. Taqiyyuddin al-Nadawi dari India. Alumni doktoral al-Azhar ini akhirnya mengeluarkan hasil penelitian naskah Shahih Bukhari yang dicetak 15 jilid.

Khidmah Terhadap Kitab Hadis

Selain Shahih Bukhari sudah tentu banyak kitab-kitab hadis lain yang masih berbentuk manuskrip dan belum dicetak secara layak. Sunan al-Nasa’i misalnya, yang sampai kepada kita masih kurang. Maka tidak sedikit hadis-hadis dalam Sunan Nasa’i yang hanya bisa ditemukan dalam kitab al-Muhalla-nya Ibnu Hazm, karena dulu beliau yang termasuk punya versi lengkapnya.

Bahkan tidak sedikit manuskrip kitab hadis yang tersimpan di Eropa. Kitab Sunan Tirmidzi misalnya, naskah terbaik dan terlengkap ternyata ada di Perancis.

Perpustakaan Chesterbeatty di Irlandia bahkan menyimpan ribuan manuskrip hadis. Bahkan dosen pembimbing saya mengatakan, “Perpustakaan Chesterbeatty di Irlandia itu bisa dibilang Perpustakaan al-Azhar cabang Eropa karena saking banyaknya manuskrip dari al-Azhar yang dulu dibawa ke sana”.

Prof. Dr. Ahmad Ma`bad dalam berbagai kesempatan sering bicara soal manuskrip-manuskrip para ulama kita yang ada di Eropa dan Amerika. Menurut beliau, perlu ada tim khusus yang didanai untuk mendata dan meng-copy ‘manuskrip-manuskrip kita’ yang dulu dibawa ke Eropa dan Amerika.

Maka, proyek khidmah hadis adalah proyek sepanjang zaman yang perlu dikerjakan oleh para spesialis yang mendapat fasilitas waktu dan berbagai bentuk dukungan lainnya.

(Sekian)

Ust. Musa al Azhar, Lc. Dipl.
Pasca Sarjana, Jurusan Hadits dan Ilmu Ilmu Hadits, Fak. Ushuluddin, Univ. Al Azhar Cairo.
Kontributor Jaringan Sekolah BIAS untuk Mesir dan Timur Tengah.

Ciri Ustadz Ideal (1) 

Sebuah langkah maju dari orang yang

Ciri Ustadz Ideal (2) 

Kembali ke topik kriteria Ustadz atau siapapun yang 

Ciri Ustadz Ideal (3) 

Selain memiliki kemampuan mengajar, idealnya

NABI MARAH Ketika turun ayat di atas, para sahabat jadi sungkan untuk

TAHDZIR Di jagat media sosial sekitar kita, sering diramaikan oleh

SETAN Kredibilitas (tsiqah) seorang perawi hadis merupakan salah satu

BELAJAR HADIS ITU SEPERTI APA? (PART I)Siapapun yang serius mendalami

GALERI

Hubungi Kami Lembaga Pendidikan Islam Terpadu Bina Anak Sholeh Yogyakarta
Hari Kerja (Senin – Jumat) : 07.00 – 16.00 WIB
Sabtu : 08.00 – 14.00 WIB
Komplek Perkantoran BIAS  Jl. Wirosaban Barat No. 6
Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta 

Telepone 0274 – 410 350
Email Sibibias@gmail.com